Jangan desak aku hingga batas akal
Cukup sudah sesal nan terjal pernah menjegal
Karena sekali mengingatmu, akan menduplikasi
Oh, janganlah engkau masuk digerbang emosi
Baik-baik saja sebagai orang yang kukenal
Tanpa harus kuketahui ceruk hati
Menujumu bagai memulai langkah ke arah ngarai yang tak pernah landai
Tapi menepismu adalah sama dengan ingkar pada alam
dan ingkar pada diri sendiri
Biarkan waktu menengahi
Apa imaji ini benar-benar terjadi
Pergantian tahun selalu memojokkanku, tentang mimpi yang setengah jadi, tentang harapan yang tak kesampaian, oh dua ribu sebelas, kusyukuri yang terjadi dan tidak terjadi.
Category:
Puisi
Aku tidak sedang berada dibawah bayang masa lalu. Hanya saja terkadang rindu membuat mataku sedikit buram, tak bisa membeda mana waktu sekarang dan mana pula yang silam. Rindu itu tidaklah begitu besar, hanya saja ia suka menampar, dan datang dengan potongan-potongan kecil, tapi runcing. Ya, seperti sawang, takkan tahu dengan cara apa ia dibuat, tiba-tiba saja sudah menempel di sudut dinding.
Mungkin kekasihku akan cemburu bila ia tahu aku sedang menulis kenangan kita. Tapi tenang, aku sudah menyiapkan jawaban untuk membela keadaan ini. Kau mau tahu? jikalah ingin, tentu aku takkan memberi jawabnya. Pastilah ia sudah tak percaya bila ia membaca tulisan ini. Ha,,ha kita tertawa sajalah. Dan akupun sudah menyiapkan alasan kenapa aku mengajakmu tertawa.
Mungkin rasa cinta akan membenciku, kenapa masih saja tak bisa melupa pada yang sudah tak ada. Tapi, aku tak khianat bukan. Toh, aku hanya menulis. Tidak dengan nyata mencari keberadaanmu atau sengaja mencari yang mungkin nyaris kembar denganmu di bumi. Aku hanya mengundangmu datang dalam ingatan sesekali, ketika hatiku benar-benar ingin. Ketika hatiku perlu belajar tentang arti kehilangan.
Mungkin huruf-huruf akan jenuh padaku, selalu saja tentang kita yang aku susun jadi paragraf rindu. Padahal, ada banyak hal lain yang bisa disulam jadi rangkai kata. Tapi, aku hanya mengikuti kata hati, membiarkan jari menari sendiri. dan Tak bisa kubendung, masih tentang kita dan kerinduan yang terus mengalir, membanjiri ruang akal.
Category:
Sajak
Kau adalah Besit yang sering datang. Membawa keping bayang yang semarak. Padahal kutahu, kau cuma dipikiranku, bukan disisi tubuh atau di dekat tinjau mataku. Tapi entah, mengundangmu dalam sebuah ruang ingatan, menjadi semacam pengobat luka. Tak jarang aku tersenyum sendiri, meski diakhir lamunan, luka kembali menjadi penutup. Karena kusadar kisah tentang kita sudah benar-benar ditutup. Penutup dari segala penutup. Ya, Tak mungkin diputar meski hanya sedetik tayang.
Sumpit. Benda itu mengingatku padamu. Kala saku cuma menyimpan dua lembar uang, kita putuskan berjajan mie ayam di pinggir jalan. Meski cuma tepung keriting yang kita santap, tapi selera makan kita tergugah. Karena kita dalam satu meja makan, dalam satu cinta di peraduan. Lalu kau yang bukan seorang pendandan, mulai memperagakan cara memegang sumpit ala orang urban. Dicapit, diputar, secukupnya lalu lahaplah sayang. begitu cara sederhanamu memperagakan. Dan kala pulang, aku sadar, hanya kau yang membuat hal biasa menjadi luar biasa, dengan cinta yang kau punya.
Goblok. Kata itu mengingatkanku padamu. Kala kita bersitatap, kita tahu sinar itu begitu lekat. Saat Hari-hari membuat kita jemu, selaksa canda kita adu. Meski cuma sepotong upil, tapi itu sudah membuat kita mengurai tawa. Dasar goblok, begitu saja tak bisa kau ini, sayang. Kalimatku tak kau anggap hinaan, tapi justru memancingmu untuk berkata sayang. Ah, tak jarang pula "kata" itu kau lemparkan padaku. Dan entah , aku merasa tersanjung begitu dalam.
Category:
Sajak
Jangan kau tambahkan luka yang sudah mengkuadrat ini.
Tak sanggup lagi kucari akar untuk menguranginya.
Dan Jangan kau bagi dengan garis miringmu
Karena sudah kukalikan nol semua angka rindu pada yang lalu.
Jika bangun ruang yang kugaris tak cukup membuatmu senang.
Tak usah cemas, ada lembar lain agar kau tak berpaling
Kau lingkarlah sesukamu, atau kau tandai titik yang sesuai inginmu
Tak usah kau hitung dengan rumus rumit
Karena hati ini tak mengenal limit
Untukmu, cintaku takkan pailit.
Tak sanggup lagi kucari akar untuk menguranginya.
Dan Jangan kau bagi dengan garis miringmu
Karena sudah kukalikan nol semua angka rindu pada yang lalu.
Jika bangun ruang yang kugaris tak cukup membuatmu senang.
Tak usah cemas, ada lembar lain agar kau tak berpaling
Kau lingkarlah sesukamu, atau kau tandai titik yang sesuai inginmu
Tak usah kau hitung dengan rumus rumit
Karena hati ini tak mengenal limit
Untukmu, cintaku takkan pailit.
Category:
Puisi
Ia selalu lewat, sesekali singgah.Kala Jiwa meresah pada sesuatu yang tiada dihadap wajah. Kala sang dia tak mengerti apa maksud kata-kataku. Ya, kadang yang hilang akan tampak makna bila ia disebandingkan, entah dari sudut mana, sebentuk beda akan menunjukkan muka.
Oh, kekasih, maafkan bila kumerindu pada yang lalu. Bukan salahmu, tapi salahku tak miliki imun pada rindu yang terlarang. Tiba-tiba saja ia bersarang, meski kutahu itu takkan kesampaian. Tiba-tiba saja ia menyerang, tanpa bisa aku bertahan.
Oh, kekasih, bantu aku membunuh mereka, yang menyebut dirinya sebagai kenangan. Karena aku tak bisa melawan sendiri.
Oh, kekasih, maafkan bila kumerindu pada yang lalu. Bukan salahmu, tapi salahku tak miliki imun pada rindu yang terlarang. Tiba-tiba saja ia bersarang, meski kutahu itu takkan kesampaian. Tiba-tiba saja ia menyerang, tanpa bisa aku bertahan.
Oh, kekasih, bantu aku membunuh mereka, yang menyebut dirinya sebagai kenangan. Karena aku tak bisa melawan sendiri.
Category:
Puisi
Pengangguran terdidik, sebuah istilah lama yang rasa-rasanya saudara sudah pernah dengar. Ya, mungkin saja tidak cuma tahu, tapi juga sedang mengalami status tersebut. semoga saja tidak, cukuplah saya yang terdidik tapi menganggur. Memang di masa yang serba sulit, serba sedikit-sedikit duit ini, tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Mau Sd tak selesai atau Sarjana tetap saja pekerjaan adalah sesuatu yang sulit dicari sesulit mencari pacar kaya dan setia.
Pernah suatu kali seorang ayah teman bercerita, dia sudah bayar uang muka untuk anaknya agar dipermudah lulus jadi PNS. Tapi, Alhasil, nihil.Ternyata ada yang berani lebih besar diatas 20 juta. Waw,,, jika saya punya uang segitu, pasti sudah saya belikan bibit jamur sebagai usaha. Tentu saya sebagai sarjana baru kaget, ternyata hal begini benar-benar ada. (sebelumnya saya cuma baca koran aja soal ini).
Baiklah, tak usah kita bahas tentang percaloan itu. anggap saa sudah lumrah, jadi mau apa lagi, percuma. sekarang alangkah baiknya, kita susun saja langkah. Menggiring optimisme setinggi-tingginya. Toh, Pengangguran diciptakan juga pastilah ada gunanya. Pasti Tuhan punya maksud kenapa kita distatuskan dulu sebagai pengangguran terdidik. Mungkin ada celah rezeki yang masih menunggu usaha kita.
Pernah suatu kali seorang ayah teman bercerita, dia sudah bayar uang muka untuk anaknya agar dipermudah lulus jadi PNS. Tapi, Alhasil, nihil.Ternyata ada yang berani lebih besar diatas 20 juta. Waw,,, jika saya punya uang segitu, pasti sudah saya belikan bibit jamur sebagai usaha. Tentu saya sebagai sarjana baru kaget, ternyata hal begini benar-benar ada. (sebelumnya saya cuma baca koran aja soal ini).
Baiklah, tak usah kita bahas tentang percaloan itu. anggap saa sudah lumrah, jadi mau apa lagi, percuma. sekarang alangkah baiknya, kita susun saja langkah. Menggiring optimisme setinggi-tingginya. Toh, Pengangguran diciptakan juga pastilah ada gunanya. Pasti Tuhan punya maksud kenapa kita distatuskan dulu sebagai pengangguran terdidik. Mungkin ada celah rezeki yang masih menunggu usaha kita.
Category:
Catatanku
.jpg)